Hadith


Beramal dan Menyampaikan


Random Hadith Widget

Bismillah

Bismillah

Tuesday, February 14, 2012

Rahasia Kulit Sapi Jantan - kisah dari buku

Dokter itu tampak lebih bingung.  Dan dalam kebingungan itu pandangannya terpaku pada kulit sapi jantan yang disebut si kepala suku, lalu ia bertanya lagi.

"Apa?  Kulit sapi jantan?  Hujan turun kerana kulit sapi jantan?  Apa ini?"

Kuna yang membantu menerjemahkan perkataan kepala suku juga merasa heran.  Ketika kepala suku itu melihat kebingungan di wajah dokter, ia berdiri mengarahkan tangannya ke kantong kulit sapi dan berbisik kepada empat orang laki-laki yang kuat.  Mereka berjalan menuju kantong kulit sapi jantan itu dan menurunkannya di atas tiang.  Tampak kantong itu berat sekali dibawa ke tempat kepala suku yang segera memerintahkan, "Bukalah!"

Kantong itu pun dibuka ...  Semua orang berebut melihat apa yang ada di dalamnya, dan terjadilah suatu kejutan ...  "Apa ini?!"  tanya dokter.  "Kumpulan buku dalam kulit sapi jantan!!!"

Petikan ini tamat di muka surat 84.

Dokter mengangkat pandangannya ke kepala suku dengan kebingungan yang semakin menjadi-jadi.  Maka berkatalah kepala suku sambil tersenyum dan membaca garis-garis pada memori yang telah lama.

"Ia adalah buku-buku yang kami tidak mengerti bahasanya, kami tidak dapat membaca, tetapi kami mensucikan dan menghormatinya.  Kami telah mewarisinya dari bapak-bapak dan kakek-kakek kami.  Mereka dahulu mengatakan kepada kami, "Buku-buku ini memiliki bahasa yang kami pakai untuk berbicara kepada Tuhan hujan jika kami menginginkan pertolonganNya untuk bebas dari kebangkrutan atau mempermudahkan suatu urusan.  Mereka pun bercerita tentang buku ini.

"Beberapa tahun yang lalu, seseorang yang suci datang dari negeri yang terletak dekat laut yang jauh.  Ia tinggal bersama penduduk desa mengajarkan mereka bagaimana caranya mensucikan Tuhan hujan.  Kemudian ia pergi meninggalkan mereka dan tidak pernah kembali lagi.  Ia meninggalkan buku-buku suci ini di sisi mereka.  Ini terjadi beberapa tahun yang jauh sekali sebelum ini ..."

Kepala suku itu berdiri lagi melanjutkan ceritanya.

"Kami, para cucu mewarisi buku-buku itu dari nenek moyang kami.  Tapi kami tidak mengerti apa isi buku-buku itu kecuali berkeyakinan bahawa itu adalah buku-buku ilahiyah yang dipakai untuk berbicara dengan Tuhan hujan pada musim kering dan kelaparan."

Kedua mata dokter berkaca-kaca menyaksikan situasi ini dan air matanya jatuh dari kelopak matanya sembari memeriksa buku-buku itu, membolak-balik kertasnya yang mulai rusak, memutar halaman-halamannya ke arah cahaya api sapi guling, kalau-kalau ia mendapat petunjuk tentang rahsianya.  Tiba-tiba ia berbisik seolah berbicara kepada dirinya.

"Apa ini?  Laamun ... Alifun ...  'Ainun ...  Ini adalah huruf Arab ... Ya, ini huruf Arab ..."

Dokter lalu mengeluarkan buku-buku yang rusak dan kertas-kertas yang telah tercecer satu persatu.  Ia tidak percaya tentang apa yang dilihatnya dan berkata, "Ini adalah buku-buku agama ... agama Islam.  Ini adalah buku-buku hadits Rasulullah Muhammad Shallallaahu Alaihi wa Sallam."

Kemudian tangan dokter itu meraih kumpulan kertas-kertas yang terlepas dari ikatannya, lalu menyatukannya dengan penuh kehati-hatian dan membaca apa yang ada di dalamnya.

Tiba-tiba ...

"Apa ini?  Suatu juz dari Al-Quran ...  Ia adalah Al-Quran ... Mushaf.  Laki-laki itu adalah seorang Muslim ... nenek moyang kami yang muslim telah sampai ke desa kalian, ini puluhan tahun yang lalu, dan mengajarkan Islam, mereka mengajarkan tauhid dan membaca Al-Quran kepada penduduk desa."  gumamnya.

Dokter itu menoleh kepada kepala suku dan menyempurnakan kata-katanya.

"Nenek moyang kami telah sampai ke tempat kalian yang jauh, puluhan tahun yang lalu, pada zaman sebelum ada pesawat, mobil dan juga misi-misi kesihatan."

Dokter teringat bahawa kepala suku tidak mengerti bahasanya, iaitu bahasa Arab.  Ia berdiri terkagum-kagum di depan dokter dengan kedua mata menatap tajam seraya berkata kepada dirinya,

"Apa yang dikatakan orang ini?  Kenapa berteriak dan mencari-cari di tumpukan kertas?"

Kuna, si pembantu dokter itu juga terkagum-kagum oleh kejadian yang mengejutkan dan membahagiakan itu.  Ia pun menerjemahkan perkataan dua orang itu kepada masing-masing sehingga ketika kepala suku sepuh itu mengerti dan memahami cerita, ia pun tersenyum dan matanya berkaca-kaca, lalu merapatkan dirinya kepada dokter dan merangkulnya.  Ia juga melakukan hal yang sama kepada anggota mini kesihatan lainnya seraya berkata,

"Bukankah telah saya katakan bahawa itu merupakan pemberian Tuhan hujan yang mengirimkan kalian kepada kami? ... Ya itu adalah anugerah Tuhan hujan yang mengirim kalian kepada kami."

Petikan ini selesai di muka surat 87.

Ini adalah salah satu daripada kisah di dalam buku Kesaksian Seorang Pilot Menguak Fakta Kekuasaan Sang Pencipta edisi revisi penerbitan Darus Sunnah Press.

Perenggan terakhir berbunyi begini ~ Kuceritakan kisah ini sebagaimana telah diceritakan teman duduk kami yang shalih, yang telah mengunjungi kami di ruang kokpit, seperti apa yang kudengar dengan telingaku.  Lalu, apakah para pemuda zaman sekarang memahami urgensi dakwah, yaitu mengajak pada jalan Allah Taala?  Bahawa banyak orang di dunia ini yang perlu mengerti hakikat agama ini pada persepsi yang sebenarnya.  Seperti yang dibawa oleh Nabi Al-Mushthafa Shallallaahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Sampaikanlah dariku - kepada manusia - walaupun satu ayat."

Tamat.

*Kapten Anas Al-Qauz - Riyadh, Arab Saudi.

Sebuah kisah yang sungguh ... antara sekian banyak kisah-kisah seumpamanya.


No comments:

Search This Blog

Blog Archive

Rakan Blog

Pakaian Muslimah

cinta hingga Firdaus

Lilypie Angel and Memorial tickers

Terima kasih :)

Follow by Email

utamakan Bahasa Melayu

utamakan Bahasa Melayu

Pantai Lumut

Pantai Lumut

Pantai Mersing

Pantai Mersing