Situasi 1.
HH berubah mendadak. Dari berseluar panjang dan baju Muslimah yang gedoboh sedikit, hari ini tiba-tiba penampilannya begitu ayu dengan sepasang baju kurung corak kotak-kotak halus berwarna hitam kelabu. Suaranya yang selalu lantang menjadi halus dan rendah nadanya.
Lagak yang lincah menerjah menjadi begitu berakhlak, malu tersipu-sipu. Haihh!
Ada suara-suara yang menyumbang bicara.
"Mama, HH angau."
"Mama, kak HH pelik la mama."
"Mama, dia nak kawin dengan UM"
Gadis HH sangat terhibur mendengar suara-suara itu. Hanya seorang yang membangkangnya dan membuatkan dia agak terkilan.
Tiba-tiba malam ini suhu badannya naik mendadak. Saluran bantuan berada jauh di Pantai Timur. Aku yang bimbang keadaan menjadi semakin hilang kawal, sepantas kilat memaklumkan kepada keluarga HH dan pengurusan madrasah. Tidak lama kemudian, HH dibawa pergi. Lewat malam, aku menerima makluman dari keluarganya, dia demam panas dan ramai juga yang sedang mendapatkan rawatan serupa di klinik berkenaan.
Semoga HH segera sembuh.
Situasi 2.
Aku serba-salah. Tetapi hati mendesak untuk berterus-terang. Dan akhirnya aku sampaikan jua suara hati yang memendam segala aduan dan luahan HH kepada yang menjadi tumpuannya. Bimbang disalahtafsirkan. Aku minta maaf beberapa kali dan cuba menjelaskan keadaan. Syukurlah, Allah memudahkan urusan. Selebihnya aku kembalikan semula kepadaMu Ya Allah.
Situasi 3.
Seorang muncul dengan wajah sembab. Seorang lagi mengadu bengkak di sana sini dan pedih ulu hati. Seorang yang lain memberitahu pehanya kesakitan. Seorang sudah lama seperti kurang sihat tetapi entah apa sebenarnya.
Yang seorang dalam urusan kembali ke tanahairnya untuk mendapatkan rawatan lanjut. Yang seorang lain belum pulang dan tak diketahui statusnya hari ini.
Situasi 4.
40 hari dari sekarang. Tiada komunikasi bermakna. Seseorang menghilang tanpa berita. Hanya mampu berbaik sangka. Amat mencabar kesabaranku. Tetapi, terasa ada manisnya.
Apabila hati bersuara, ia adalah bisikan paling halus dari sudut hati yang paling tersembunyi. Tiada sesiapa mengetahui melainkan Allah Taala yang Maha Seni. Lalu hanya kepada Allah aku berserah diri. Ya Allah, kurniakan daku takdir yang baik di dunia ini dan takdir yang baik juga di akhirat nanti. اللهحم امين
Bismillah
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Search This Blog
Blog Archive
-
▼
2014
(207)
-
▼
Nov 2014
(28)
- Puisi / sajak aku tidak layak ke sayembara kerana ...
- Laut Serasa
- Gagasan fikiran
- Alhamdulillah ...
- wahai sang Bidadari
- panorama di tepi pagar, di satu pagi yang terang-b...
- usaplah si airmata
- tiba-tiba
- kembali
- hasrat terpendam
- menangislah ...
- Tetap Mati
- Sehari dalam sejarah
- harapan ibu
- Penat dan agak mengantuk. Namun menggagahi diri u...
- sajak Laila Ain untuk mama
- Mengumpul puisi. Diperlukan hanya 45 buah puisi u...
- Hujan kembali membasahi bumi. Alhamdulillah. Bac...
- InsyaAllah aku akan teruskan permohonan untuk penu...
- Hari ini menu ikan tuna kari. Kemudian aku bergeg...
- Hari yang menyenangkan. Bersama suami dan anak-an...
- Alhamdulillah. Apabila Allah menetapkan ia untuk ...
- "Kalau Adik masuk madrasah, Abang Hidayat masuk ma...
- Hari ini aku bersungguh-sungguh memperbaiki cerpen...
- Rindu Berdosa - cerpen untuk Pertandingan Penulisa...
- Dari Abdullah bin umar r.huma meriwayatkan,Rasulul...
- Wahai Binti Ramlah
- Pagi ini aku rush pelajar untuk gotong-royong. Ti...
-
▼
Nov 2014
(28)
Terima kasih :)
utamakan Bahasa Melayu
Pantai Lumut
Pantai Mersing

No comments:
Post a Comment