Hadith


Beramal dan Menyampaikan


Random Hadith Widget

Bismillah

Bismillah

Thursday, March 13, 2014

Masih terheran-heran

Terdesak untuk menghabiskan bacaan ini.  Aku bukan pembaca yang terbaik.  Tak mampu menyelami perasaan Laila mahupun Majnun hingga ke sudut hati mereka yang paling menghibakan.  Aku hanya mengerti keadaan mereka.  Airmata masih belum mampu menitis sendiri.

Semakin lama semakin lara.  Aku mula terpesona dengan perumpaan yang diungkapkan.

Antara yang agak mudah, "Di taman, daun-daun berguguran seperti air mata.  Bunga-bunga telah menanggalkan gaun musim panas mereka yang berwarna-warni lalu mengenakan jubah gelap musim gugur.  Warna putih bunga melati telah kehilangan kesegarannya.  Mawar menggugurkan helai-helai daun bunganya seakan-akan meratapi berakhirnya musim panas.  Bunga narsis mengucapkan selamat tinggal pada teman-temannya dan bersiap untuk berangkat.

Bagaikan para nelayan yang ketakutan akan sebuah badai yang tengah mendekat, pohon-pohon melemparkan buah-buahan muatan mereka ke luar kapal.  Para tukang kebun kemudian akan memunguti buah beri, apel dan anggur itu untuk bekal mereka menghadapi musim dingin yang segera datang.  Sungai dan danau melepaskan kehangatan mereka, sementara rerumputan merelakan kemilau zamrudnya untuk menguning dan memucat.

Sementara daun-daun di taman layu perlahan-lahan, Laila pun tidak jauh berbeda; musim seminya telah berakhir, berubah menjadi musim dingin akibat jari beku takdir, oleh sentuhan dingin kesengsaraan hidup yang sangat berat.  Api kehidupan yang pernah menyala cemerlang di dalam dirinya kini tidak lebih dari sebuah kerlip api yang kecil, dipermainkan oleh angin, yang dapat padam sewaktu-waktu.  Dari sebuah purnama yang dulu bersinar-sinar, hanya sebuah bulan sabit pucat yang kini tersisa.  Dari pohon cemara yang dulu berdiri mengah, kini hanya sebuah bayangan lemah yang dapat terlihat.  Laila adalah bunga yang telah kehilangan kesegaran dan gugur daun-daunnya, bahkan Laila bukanlah Laila lagi."

Tak tahu.  Mungkin kerana perumpamaan yang halus.  Mungkin kehebatan cinta yang dipertahankan kesuciannya.  Mungkin penderitaan yang dipersembahkan hingga maut menjemput.  Mungkin juga kegilaan luar biasa yang menyelubungi jiwa Majnun.  Mungkin keindahan wajah Laila yang dianugerahkan Allah begitu memukau.

"Sudah sekian lama ia mengejar gadis itu.  Namun sekarang, ketika harta itu telah berada dalam genggamannya, kunci menuju peti itu menolaknya.  Penasihat kepercayaan Ibnu Salam menasihati dirinya untuk bersabar dan menunggu ... dan berharap.  Ibnu Salam mencoba sedapat mungkin untuk menyenangkan Laila dan mencari tahu mengapa istrinya menolak untuk membahagiakan dirinya, tapi semuanya sia-sia.  Tidak ada yang dapat dibaca dari mata istri tercintanya selain air mata, dan setiap malam Ibnu Salam selalu terjaga dan kesepian.

Ibnu Salam telah menjadi begitu putus asa hingga ia akhirnya berpikir untuk melakukannya dengan paksaan.  Lagi pula, tanyanya kepada dirinya sendiri, bukankah dia adalah istriku?  Bukankah itu adalah hakku?  Siapa tahu mungkin hal inilah yang diharapkannya?  Kemudian berhentilah ia untuk mencoba mendapatkan Laila dengan lemah lembut, dan mengambil tindakan yang lebih memaksa.  Tapi ia gagal lagi.  Dalam usahanya untuk memetik sang buah, tangannya malah tergores oleh duri.  Dalam ketergesaannya untuk menikmati rasa manis buah itu, satu-satunya hal yang ia dapat rasakan ternyata lebih pahit daripada kayu kina.  Karena begitu ia menjulurkan tangannya untuk menyentuh Laila, gadis itu akan membenamkan giginya pada tangannya dan mencakar wajahnya sampai mereka berdua bersimbah darah Ibnu Salam.

"Aku bersumpah, demi Tuhan, jika kau mencobanya sekali lagi,"  Laila menjerit, "kau akan menyesalinya seumur hidup!  Aku telah berjanji kepada Penciptaku bahawa aku tidak akan menyerah kepada keinginanmu.  Kau bisa menyembelih leherku dengan pedangmu kalau kau mau, tapi kau tidak bisa mendapatkanku dengan paksaan!"

* masih terheran-heran.  Kisah cinta klasik yang tak pudar dek masa. 

*inilah barangkali yang selalu ditekankan oleh Sifu.  Menyelami hingga ke dasar hati dan jiwa.  Hingga Laila dan Majnun itu hidup bernyawa dalam perasaan.

*bagaimana dapat menyelaminya ... perlu diulang baca ke?

*tapi ada satu novel yang tak sengaja aku baca sekitar 3 tahun lalu, yang sempat mencuit rasa dukacita dan simpati kepada wataknya. (tentulah bukan kisah cinta adam dan hawa).

* muak dengan kisah cinta walaupun seingat aku hanya 1-2 novel yang pernah aku baca tentang cinta.  Aku pun hairan, kenapa?  Hmm novel kisah cinta pasaran hari ni ... entah apa-apa.

*** Permata Hitam, tajuk novel dewasa pertama, agaknya.  InsyaAllah.***




No comments:

Search This Blog

Blog Archive

Rakan Blog

Pakaian Muslimah

cinta hingga Firdaus

Lilypie Angel and Memorial tickers

Terima kasih :)

Follow by Email

utamakan Bahasa Melayu

utamakan Bahasa Melayu

Pantai Lumut

Pantai Lumut

Pantai Mersing

Pantai Mersing